Rabu, 13 Maret 2013

Geografi " Sejarah Bintang"

-->
SEJARAH BINTANG
Asal Mula Keberadaan Bintang
Bintang-bintang baru lahir setiap saat. Pada malam hari, coba arahkan pandangan kita ke langit. Apa yang terlihat? kegelapan yang sangat luas dan menakjubkan, ditaburi bintang-bintang yang bercahaya gemerlapan. Di antara bintang-bintang itu ada sebuah daerah yang sangat gelap, tempat di mana tak satupun bintang bersinar. Di sanalah tempat awan raksasa ruang angkasa berdiam, bukan awan yang ada di langit, seperti yang bisa dilihat kasat mata dari bumi atau ketika kita naik pesawat udara. Awan raksasa itu terbentuk dari partikel-patikel yang sangat kecil (bisa atom, molekul, dan lainnya dan tentu saja energi) yang mengambang di dalamnya. Partikel-partikel kecil itu bergerak-gerak, sebagian di antaranya berkumpul dan menyatu membentuk gumpalan materi yang sangat besar.

 Bahan Asal Bintang
Pembentukan bintang memerlukan materi berupa gas dan debu sangat besar. Karena itu, tempat kelahiran bintang erat berkait dengan keberadaan kabut gelap yang banyak dijumpai di lengan-lengan galaksi. Salah satu kabut yang populer adalah Kabut Orion.
Cikal bakal bintang berawal dari  kabut antarbintang yang mengelompok dan mengerut akibat interaksi gravitasi partikel gas. Pada proses pengerutan, sebagian energi potensial gravitasi dipancarkan sebagai radiasi dan sebagian diubah jadi energi kinetik atau energi panas. Jadi gumpalan kabut gas memanas dan bercahaya. Bila massa gas cukup besar, temperatur di pusat bintang jadi cukup besar untuk menghentikan pengerutan.


Proses Kelahiran Bintang
Meskipun bintang bukan makhluk hidup, bintang mempunyai siklus kehidupan. Bintang lahir, tumbuh, dan kemudian mati. Bintang tidak tampak berubah karena bintang ‘hidup’ sangat lama, jutaan hingga milyaran tahun. Matahari kita sendiri berumur sekitar 1 milyar tahun, dan masih tetap akan bertahan hidup hingga 5 milyar tahun lagi.
Bintang memancarkan energi yang luar biasa besar. Inilah yang menjadikannya bisa terlihat dari jarak yang sangat jauh – milyar-milyaran kilometer. Energi ini dihasilkan dari reaksi antara inti-inti atom di dalam bintang.
Semua benda biasa mengandung atom, dan atom benar-benar sangat kecil. Bila 100.000 atom dideretkan dalam satu garis, garisnya tidak akan lebih panjang dari ketebalan secarik kertas. Sebuah atom terdiri dari inti utama yang sangat masif dan dikelilingi oleh partikel-partikel yang disebut elektron. Diameter sebuah atom sekitar 10.000 lebih besar dari diameter intinya, dan sebagian besar massa atom terkonsentrasi pada inti.
Pada temperatur biasa, atom bereaksi satu sama lain secara kimiawi dengan saling berbagi atau mentransfer elektron. Pada temperatur sangat tinggi (jutaan derajat), inti atom akan menyatu membentuk inti yang jauh lebih besar. Proses ini disebut penggabungan nuklir (nuclear fusion). Dalam nuclear fusion, atom-atom akan terpisah. Dua hal terpenting pada kelahiran bintang adalah nuclear fusion dan gravitasi.
Karena gravitasi, semua partikel akan saling tarik-menarik satu sama lain. Kumpulan gas raksasa yang disebut nebula pun terbentuk karena gaya gravitasi ini. Dalam nebula ini, biasanya terbentuk bintang. Partikel-partikel di dalam nebula tarik menarik satu sama lain dan kemudian menyatu menjadi objek dengan volume yang lebih kecil dan lebih kecil lagi. Terbentuklah bintang. Bintang muda biasanya banyak mengandung atom hidrogen, atom paling sederhana dan paling ringan dari semua atom.
Setelah volumenya mengecil, energi yang didapat dari gravitasi diubah untuk membentuk panas. Temperatur bintang pun naik. Bila temperatur permukaan bintang mencapai kira-kira 2.000 derajat Celcius, bintang itu akan ‘bersinar’. Penyusutan volume akan terus terjadi hingga temperatur inti bintang mencapai jutaan derajat. Pada temperatur ini, atom-atom hidrogen akan mulai menyatu membentuk atom-atom helium.
Penggabungan hidrogen membentuk helium merupakan proses yang terjadi pada sebagian besar bintang. Semakin besar massa suatu bintang, semakin tinggi temperaturnya. Bintang dengan temperatur lebih tinggi akan bersinar lebih terang. Proses penggabungan hidrogennya pun lebih cepat. Matahari kita membutuhkan waktu hingga 5 milyar tahun lagi untuk menghabiskan hampir semua hidrogennya. Bintang yang massanya tiga kali massa Matahari akan menghabiskan hidrogennya dalam setengah milyar tahun. Sedangkan bintang yang massanya setengah massa Matahari memerlukan waktu 200 milyar tahun agar hidrogennya habis.
Saat hidrogen digunakan, inti bintang akan semakin kecil, dan temperaturnya akan naik hingga 100 juta derajat. Temperatur sangat tinggi ini menyebabkan gas-gas di sekeliling inti luar menyebar besar-besaran. Bintang seperti ini kemudian dikenal dengan ‘red giant’ (bintang raksasa merah). Saat Matahari kita menjadi ‘red giant’ (5 milyar tahun dari sekarang), gas-gas Matahari akan keluar melewati orbit Bumi. Bumi kemudian akan ‘dilahap’ Matahari.
Saat inti bintang mencapai temperatur 100 juta derajat, temperatur ini tidak cukup untuk menghasilkan reaksi nuklir yang baru. Pada kondisi ini, atom-atom helium akan menyatu membentuk atom yang lebih besar bersama karbon dan oksigen (pada sebagian besar bintang raksasa, besi juga termasuk). Gas-gas di sekeliling inti akan menyebar. Bintang kemudian menjadi ‘red supergiant’ (bintang super-raksasa merah), dengan diameter melebihi orbit Jupiter. Pada kondisi ini, energi bintang dihasilkan dengan sangat cepat, namun kondisi ini tidak bertahan lama.

Proses Kematian Bintang
Tidak ada yang abadi, pun bintang yang kita lihat. Di akhir kehidupannya, bintang itu akan meledak, yaitu ketika tidak ada lagi partikel-partikel kecil untuk digabungkan menjadi partikel-partikel besar. Bintang akan mengembang semakin besar dan besar, sampai mencapai ukuran yang tak seorangpun sanggup membayangkannya. Kemudian meledak serta melontarkan semua atom-atom besar yang telah dibentuk oleh bintang itu di dalam perutnya ke angkasa, menyisakan sebentuk awan baru yang sangat indah, penuh dengan warna-warni dan materi-materi baru. Awan-awan tersebut akan bercampur dengan awan-awan lain, dari bintang-bintang lain yang juga telah meledak. Setelah mendingin, semua gas dari awan-awan itu akan membentuk awan raksasa, yang kelak menjadi tempat lahirnya sebuah bintang baru.


Selasa, 12 Maret 2013

MAKALAH BAHASA JAWA " Sejarah Wayang"

ATUR PAMBUKA

Puji syukur kita panjataken marang ngarsanipun gusti Allah YME ingkang sampun nglimpahaken tresna lan kasihipun, sahingga kita saget  ngrampungaken tugas damel makalah niki yaiku salah sawijining syarat damel nglengkapi tugas bahasa jawa SMA Negeri 3 ponorogo. Mboten kesupen rasa matur suwun datheng:
1 .Bapak Nadif Saputra , guru bahasa jawa SMA Negeri 3 ponorogo ingkang sampun menehi  pengarahan kalian bimbingan datheng kita sedaya  anggen kita nyusun KTI niki.
2.      Rencang-rencang ingkang sampun berpartisipasi nyampekne KTI niki
 Kita nyuwun pangapunten anggene damel KTI niki kurang sempurna lan tasih kathah klentunipun ingkang mboten kita mangertosi.
            Kirane sedaya kesaean ingkang sampun maringi datheng kita  angsal balesan saking gusti Allah YME. Harapan kita mugi-mugi makalah niki wonten paedahe kagem sedaya ingkang maca.
Ponorogo,30 Mei 2012

                 Penulis  



      
BAB I
PURWAKA
1.1 Lelandhasaning Masalah
                        Warisan budaya saking para leluhur punika kathah ingkang saged dipun sinau dening kawula muda. budaya adilihur punika ugi saged paring pambiyantu para muda ingkang ngangsu kawruh ngembangaken kabudayan. satunggaling budaya luhur ingkang taksih sae inggih menika wayang. wayang iku pagelaran nganggo bonéka kang umumé katon éndah ing wewayangané lan dilakokaké déning dhalang kanthi iringan gamelan. Bonéka kasebut bisa kang awujud 2 dhimensi utawa awujud 3 dhimensi. Umumé, kang wujud 2 dhimensi, kagawé saka kulit (walulang), kang biyasané kulit sapi, utawa wedhus. Lan kang wujud 3 dhimensi, lumrah digawé saka kayu kang direnggani penganggo saka kain kang manéka warna adhedhasar karakter wayang kasebut. Nanging ing sawatara tlatah, uga ana kang gawé wayang saka suket, lan kerdhus, ananging wayang jinis ngéné iki ora pati akčh ditemoni.

1.2 Undharaning Masalah
Lumantar makalah menika, badhe dipunaturaken uneg-uneg ingkang wonten gandheng cenengipun kaliyan kados pundi pangertosan wayang menika lan wayang menika langkung ngrembaka lan kondhang kawentar wonten masyarakat Indonesia khusussipun masyarakat Jawi piyambak. Babagan menika wigatos sanget dipunpenggalih khususipun dening warga ingkang rumaos “asli” saking Jawi, utawi sinten kemawon ingkang hanggadhahi raos handarbeni dhumateng wayang, supados kawontenan tiyang Jawi lan ugi kabudayanipun langkung dipunakeni dening kelompok-kelompok warga ndonya sanesipun.

1.3 Tujuan Paneliten
Wonten 3 perkawis ingkang dopunaturaken wonten makalah menika:
1.menapa ingkang dipuntegesi wayang?
2.kados pundi sejarahipun wayang?
3.kados pundi sebutanipun wayang menika?

1.4 Paedah Paneliten
Paedah saka makalah iki yaiku:
  1. Kanggo Masyarakat                                                                           
    minangka papan sinau ngenani budaya wayang, lan bisa luwih mangerteni klira-klirune pangerten budaya wayang.
  2. Kanggo Panulis                                                                                              
    minangka papan informasi ngenani budaya Jawa sing bisa didadekake cekelan kanggo panaliti sabanjure sing ana gegayutane karo panaliten iki.







BAB II
ANDHARAN

2.1  Pangertosan  Wayang          
wayang menika pagelaran ingkang ngagemboneka umumipun. wayang dipunlakokakan dening dhalang kanthi iringan gamelan. Boneka kasebut, saged awujud 2 dimensi utawa 3 dimensi. Umumipun, ingkang wujud 2 dimensi, kadamel saking kulit (walulang), ingkang biasanipun kulit sapi, utawi mendha. Menawi ingkang 3 dimensi, limrahipun dipundamel saking kajeng ingkang dipunrenggani ageman saking kain maneka warna adhedasar karakter wayang kasebut. Nanging ing sawetara tlatah, ugi wonten ingkang damel wayang saking suket, tuwin kerdus, ananging wayang jinis menika boten kathah. 
2.2  Sejarahipun Wayang       
Miturut para ahli budaya uga panemune penyelidikan para ahli arkeologi sing ana ing Indonesia, kesenian budaya wayang kuwi saktemene bentuk asline wis ono biyen-biyen, rikolo isih jaman kuna, yaiku jaman sakdurunge ana agama Hindu Budha. Ing jaman semana sing diarani budaya wayang wis diduweni karo dening bangsa Indonesia dewe. Dadi wayang kuwi iya kabudayan asline bangsa. Wektu kuwi, budaya wayang isih cedak hubungane karo muja-mujine kapercayan animisme sing isih pada dianut para leluhuring bangsa Indonesia.
Miturut kapercayan Animisme roh nenek moyang utawa leluhur bisa dienggo nyenyuwun petunjuk bantuan kanggo kamulyan uga biso disuwuni kanggo pengayom kasusahaning lan kacilakane menungsa. Kosok baline ruh kuwi mau iya uga dipercaya sing bisa ndadekake gangguan utawa kacilakane menungsa. Mula rikala semana, yen ana karep kanggo nyenyuwun bantuane roh para leluhur, banjur dianakna kaya dening upacara ritual selametan, sing jarene bisa ngundang, nimbali para rohing leluhur sing wis pada seda kanggo disuwuni keselametan lan kamulyane menungsa. Upacara ritual mau dianakna dibarengi nganggo cara gawe pagelaran wayang
2.3  Sebutan wayang    
Yen dijupuk seka ukarane, wayang kuwi seka wewayangan, amarga pagelarane ana ing wayah wengi lan nganggo lampu. Nanging katrangan iki wis ora bisa diugemi maneh. wayang dadi ora mligi boneka kang ana wewayangane wayang golek kang digawe seka kayu ora ngandhelake wewayangan. Ukara wayang wis dadi pagelaran boneka kang digelar dening dhalang. Umume, sebutan wayang tinuju marang wayang kulit purwa. wayang iki digawe seka tatahan kulit kewan kanti lakon seka Mahabharata lan Ramayana
           







BAB III
PANUTUP
3.1 Dudutan
wayang iki ora mung sumebar ing Jawa wae, nanging uga ing tlatah liya ing Nuswantara. wayang iku pagelaran nganggo boneka kang umume katon endah ing wewayangane lan dilakokake dening dhalang kanthi iringan gamelan. Boneka kasebut bisa kang awujud 2 dhimensi utawa awujud 3 dhimensi. Umume, kang wujud 2 dhimensi, kagawe saka kulit (walulang), kang biyasane kulit sapi, utawa wedhus. Lan kang wujud 3 dhimensi, lumrah digawe saka kayu kang direnggani penganggo saka kain kang maneka warna adhedhasar karakter wayang kasebut. Nanging ing sawatara tlatah, uga ana kang gawe wayang saka suket, lan kerdhus, ananging wayang jinis ngene iki ora pati akeh ditemoke ing Indonesia.
Jinising wayang inggih menika: wayang Golek, wayang Thengkul Bojonegoro, wayang Krucil, wayang Purwa, wayang Beber, wayang Uwong, wayang Gedog, wayang Sasak, wayang Calonarang, wayang WahyWayang Menak, wayang Klitik, wayang Suluh, wayang Papak wayang Madya, wayang Parwa, wayang Sadat, wayang Kancil.

3.2 Saran
1. wayang iku budaya jawa asli dadi kudu di lestarikake lan aja di lalekne.
2. kita dadi kaum muda kudu iso jaga kebudayaan jawa , kayata budaya wayang.
3. kita dadi penerus bangsa kudu nunjukake budaya wayang ing tingkat internasional.



































Daftar Pustaka

  1. http://aindra.blogspot.com/2007/10/wayang.html-74k-
  2. http://bonarine.blogspot.com/2008/01/nuhoni-unen-unen-seje-silit-seje-anggit.html
  3. http://kidemang.blogspot.com/2008/01/wayang-bahasa-jawa.html

Drama 5 Anak " Terlanjur Bodoh"

Terlanjur bodoh

Suatu hari di sebuah desa, hiduplah seorang tabib dan pembantunya yang amat sangat bodoh.
Tabib        : “Sompil,,kesini kau ! ambilkan obat flu di laci !”.
Sompil      : “Sebentar tuan ,,, 2 jam lagi saya ambilkan !”.
Tabib        : “Sekaraaaang !!”.
Sompil      : “Baik tuan !” (lari mengambil obat) “ini tuan”.
Tabib        : “Lhoo obatnya kok berwarna ungu,,obat apa ini ?”.
Sompil      : “Obat diare tuan”.
Tabib        : “Sompil sompil... saya itu lagi flu bukan diare”.
Sompil      : “Kan sama saja tuan , Cuma beda jalan kluarnya, kalo flu lewat depan kalo diare lewat blakang”.
Tabib        : “Dasar sompil !! cepat ambilkan obat flu dan bawakan makanan!”.
Sompil      : “Baik tuan” (sompil pergi dan kembali dengan membawa makanan)” ini tuan obat sama makanannya”.
Tabib        : “Lhoo makanan apa ini?”.
Sompil      : “Makanan kucing tuan”.
Tabib        : “Apa ??  sejak kapan saya makan makanan kucing?”.
Sompil      : “Sejak  kemarin tuan”.
Tabib        : “Appaaa??”.
Sompil      : “Maaf tuan, beras sama lauk uda pada abis,, yang ada Cuma itu”.
Tabib        : “Terus knapa kamu gak minta uang blanja”.
Sompil      : “Hehehe malu atuh,,”. ( sambil senyam-senyum)
Tabib        : “Dasar sompiiiilll !!!”.
Tak lama kemudian datang seorang tamu
Mia            : “Assalamu’alaikum”
Tabib         : “Wa’alaikumsalam,, ada tamu, cepat buka kan pintu!”
Sompil       : “Baik tuan !!”( membuka pintu lalu kembali kepada tuan )
Tabib         :  “Lhoo.. knapa kesini lagi, mana tamunya??”
Sompil       : “Di depan pintu tuan”
Tabib         : “Kenapa tidak di suruh masuk?”
Sompil       : “Tadi tuan tidak menyuruh masuk.”
Tabib         : “Pintar sekali kau ini !! suruh masuk oon dan tanya ada perlu apa !”
Sompil       : “Eh eh eh baik baik.”(lari menghadap tamu)
Mia            : “Permisi..pak tabib nya ada??”
Sompil       :“Ada, silahkan masuk !! ada perlu apa ya mbak ??”
Mia            :“Saya ada perlu dengan pak tabib.”
Sompil       : “Iya,,ada perlu apa?”
Mia            : “Ya perlu dengan pak tabib.”
Sompil       : (bingung)“Kalau pak tabib tidak ada perlu dengan anda bagaimana ??”
Mia            : “Lhoo.. ya harus perlu dong.”
Sompil       : “Tapi tadi pak tabib tidak bilang kalau ada perlu.”
Mia            : “Yang ada perlu itu saya, bukan pak tabib.”
Sompil       : “Kalau begitu tidak ada hubunganya dengan pak tabib,, silahkan pulang saja !!”
Mia           : “Lhooo bagaimana sih ini.. sudah sana panggilkan pak tabib, sekalian bawakan jus jeruk sama makanan ringan,,,cepat !!”
Sompil       : (pergi dengan bingung ),,“Tuan, ada tamu !!”
Tabib         : “Sudah tau.”
Sompil       : “Kok tau??”
Tabib         : “Namanya juga tabib,, siapa tamunya ??”
Sompil       : “Anu tuan ,, cewek ,, tapi bloonnya minta ampun !!”
Tabib         : “Kaya kamu pintar saja !! sudah sana buatkan minuman !!”
Sompil       : “Baik tuan.”(pergi)
Sang tabib menemui tamunya
Tabib         : “Ada perlu apa dik?”
Mia            : “Dak dik dak dik , kapan aku jadi adik kamu??”
Tabib         : (mengelus dada ) “ada perlu apa mbak??”
Mia            : “Kok malah panggil mbak sih, aku nggak mau punya adik kayak kamu.”
Tabib         : “Semprul ” (berteringak ) “maunnya di panggil apa ??”
Mia            : “Mia, M-I-A”
Tabib         : “Nama panjangnya ??”
Mia            : “Miaaaaati.” (dengan bangga menyebutkan namanya)
Tabib         : “Nama kaya gitu aja bangga banget.”
Mia            : “Suka suka dong , nama,nama gue, masalah buat lo !!”
Sompil datang dengan membawa makanan dan minuman
Sompil       : “Ini makanan sama minumnya.”
Tabib         : (heran) “Dari mana kamu dapat makanan ini?”
Sompil       : “Dari dapur  tetangga tuan.”
Mia            : “Makasih !!” (sambil minum ) “eh eh kipasin dong ! panas banget disini !!”
Sompil       : “Semprul.”
Tabib         : “Sebenarnya ada perlu apa anda kemari ??”
Mia           : “Begini lo pak , saya itu lagi sakit, tapi saya sudah mencari obat keman-mana  tapi tidak ada yang berhasil, mungkin pak tabib bisa menolong.”
Tabib         : “Oh, bisa-bisa, apapun penyakit anda saya bisa menyembuhkan.”
Sompil       : “Preet !!”
Tabib         : “Diam kamu, ada keluhan lain ?”
Mia           : “Ada-ada, saya itukan cantik, imut, putih, baik hati, suka menolong, suka menabung, setia, kurang apa coba ?”
Sompil       : “Kurang tinggi mbak.”
Mia            : “Diam kamu ! bagaimana ini pak tabib ?”
Tabib         : (heran) “Sebentar,, anda ini sebenarnya sakit apa ?”
Mia            : “Sakit hati pak! Saya di putusin pacar dan saya ingin balas dendam pak.”
Tabib         : “Alamaaak, anda pikir saya dukun santet disuruh balas dendam.”
Mia            : “Lho, tadi katanya bisa.”
Tabib         : “Kalau sakit badan saya bisa, tapi kalau sakit hati, mana bisa!”
Mia            : “Ya harus bisa dong!”
Tabib         : “Ooo tidak bisa.”
Mia            : “Bisa.”
Tabib         : “Tidak.”
Mia            : “Bisa.”
Tabib         : “Tidak.”
Sompil       : “Diaaaam! Biar saya saja yang mengobati.”
Tabib+Mia : “Memang bisa?”
Sompil       : “Begini, pergi ke alamat ini.”
Mia            : “Alamat siapa ini?”
Sompil       : “Dokter  jiwa.”
Mia            :  “Ya ya , saya akan kesana. Terima kasih.”
Sompil       : “Mbak mbak.” ( jentik jari )
Mia            : “Oh iya lupa, ini.” ( memberi sebuah permen )
Tabib         : “Hahahahaha, pintar sekali anda mbak.”
Mia            : “Nanti kalau kurang saya masih punya dikantong.”
Sompil       : “Asiiin !!!”
Mia            : “Mbak, permen itu manis. Yang asin itu gula. Permisi !!”
Kemudian Mia meninggalkan rumah tabib
Tabib         : “Saya mau istirahat dulu, nanti kalau ada tamu, beritahu saya !”
Sompil       : “Baik tuan.”
Tak berselang lama,ada dua orang yang sedang kebingungan mencari sebuah rumah. Tepat di depan rumah tabib mereka berbincang-bincang.
Mami        : “Papi, benar ini rumahnya ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : “Kalo salah alamat gimana ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : “Kalau bukan ini yang mana ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : “Yang ini apa yang itu ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : “Kok sepi, ada orangnya gak ya ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : “Papi yakin nggak ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : “Papi itu tau nggak sih ?”
Papi           : “Nggak tau, mau tanya apa lagi mi ?”(mulai kesal)
Mami        : “Nggak tau.”
Papi           : “Masuk aja yuk !”
Mami        : “Eh bentar, kira-kira dukunnya pintar ngak ya ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : “Kalau serem gimana ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : “Kalau kita ditipu gimana ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : ( ploook  ! menampar pipi kiri papi ) “Bisa nggak jawab selain nggak tau ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : “Sudah-sudah ayo masuk.”
Mami dan papi mengetuk pintu rumah tabib
Papi           : “Permisi.”
Mami        : “Permisi.”
Papi           : “Spada.”
Mami        : “Spada.”
Papi           : “Punten.”
Mami        : “Punten, ini rumah apa . . .”
Papi           : “Nggak tau.”
mami         : (menampar pipi kanan papi)
Papi           : “Sakit tau ?”
mami         : “Gak tau.”
Sompil menuju pintu dan membuka pintu.
Sompil       : “ada perlu apa ?”
Mami        : “Ada perlu sama tabib.”
Sompil       : “Silahkan masuk, silahkan duduk, silahkan pulang.”
Papi+mami: (masuk rumah lalu  melangkah pulang )
Mami        : “Lho, kok pulang pi ? ini yang bodoh kita apa dia ?”
Papi           : “Nggak tau.”
Mami        : ( kembali ke sompil ) “Eh eh gimana sih ? kok kita disuruh pulang ?”
Sompil       : “Siapa yang nyuruh ? tadi kan Cuma bercanda. Bego banget jadi orang. Silahkan duduk, saya panggilkan pak tabib.”
Papi+mami: ( heran )
Tak lama kemudian tabib datang
Tabib         : “Ada perlu apa Bu.. Pak.. ?”
Papi           : ”Begini pak, dari dulu sampai sekarang, kami masih seperti ini, padahal kami sudah berusaha berdo’a dan membanting tulang.”
Tabib         : “Haa??… anda Membanting tulang??” (heran)
Mami        : “Bekerja keras maksudnya pak”
Papi           : “Iyaa, sampai-sampai saya kebakaran jenggot karena usaha saya gagal melulu.”
Tabib         : “Apa??… Jenggot anda kebakaran??”(kaget)
Mami        : “Marah besar maksudnya pak.”
Papi           : “Kami juga pernah gulung tikar sampai 30x.”
Tabib         : “Anda menjual tikar?”
Mami        : “Rugi maksudnya. Haduuh pak tabib tidak pernah makan bangku sekolahan ya?”
Tabib         : “Jelas tidak pernah, bangku sekolah kok dimakan, kasihan pemerintah! Sudah sudah dari tadi anda curhat saja. Sebenarnya apa masalah anda?”
Papi           : “Kami ingin kaya pak.”
Tabib         : ”Kaya apa? Kaya monyet, kaya tomcat, kaya tukang pijat atau kaya saya?”
Mami        : “Kaya harta maksudnya.”
Tabib         : “Kalian ini bagaimana, ingin kaya kok pergi ke tabib, pergi ke warung sana!”
Papi           : “Ngapain?”
Tabib         : “Belikan makanan, saya lapar!”
Mami        : “Pak tabib kami serius ingin jadi kaya.”
Tabib         : “Saya juga serius, saya ini lapar.”
Papi           : “Itu bukan urusan kami pak.”
Tabib         : “Tapi itu urusan perut saya.”
Mami        : “Sudah sudah, kami ini ingin kaya pak! Bisa bantu apa tidak?”
Tabib         : “Saya itu heran, sejak kapan seorang tabib bisa membuat orang jadi kaya?”
Papi           : “Ya sejak sekaranglah.”
Tabib         : “Anda ini bagaimana, saya itu tabib, bisanya Cuma menyembuhkan orang sakit, bukan bikin orang jadi kaya.” (menahan marah)
Mami        : “Papi kelihatannya kita salah alamat deh.”
Papi           : “Gak tau deh mi…”
Mami        : “Pulang aja yuuk pi.”
Papi           : “Emmm ya sudah pak, kami pamit dulu, permisii.”
Mami        : “Iya silahkan.”
Tiba-tiba sompil datang dengan membawa minuman, tetapi kedua orang tamu itu hendak pulang.
Sompil       : “Eh eh mau kemana, jangan pulang dulu, yang mau minum ini siapa?”
Mami        : “Minum saja sendiri.”
Sompil       : “Gak bisa gak bisa, minum dulu baru pulang.. gimana sih, udah susah-susah dibuatin!”
Papi+mami: (takut, kemudian meminum teh buatan sompil)
Sompil       ; “Nah gitu dong… emmmb anda yakin ingin kaya?”(tanya sompil kepada kedua tamu)
Papi           : “Gak tau.”
Mami        : “Papi pilih tangan kanan apa kiri?” (sambil mengangkat tangannya)
Papi           :(geleng-geleng)” Yakin,anda tahu caranya?”
Sompil       : ”Pergi ke alamat ini, anda akan menemukan jawabannya.”
Mami        : “Alamat siapa ini?”
Sompil       : “TPA.” (Tempat Pembuangan Sampah )
Mami        : “Terimakasih. Kami akan pergi ke sana.”
Lalu, kedua orang tamu bodoh itu pergi ke tempat pembuangan sampah di kota dengan sangat girang.
Sore harinya sang tabib curhat kepada pembantunya (sompil) tentang keadaanya selama menjadi tabib.
Tabib         : “Sompil kenapa nasib saya seperti ini, sudah 10 tahun saya menjadi tabib, tapi tidak pernah mendapatkan pasien yang normal” (sambil geleng-geleng)
Sompil       : “Sabar.” (sambil membersihkan meja)
Tabib         : “Tapi kenapa harus saya… Banyak tabib yang sukses, hidupnya enak, banyak harta dan hidup mewah.”
Sompil       : “Sabar.” (masih tetap membersihkan meja)
Tabib         : “Apa saya harus ganti provesi?” (sambil berpikir ala tabib ) “Ahaa!!” (berteriak sambil mengacungkan jari ) “Saya punya ide, bagaimana kalau kita bertukar provesi saja.Kamu jadi saya, saya jadi kamu!”
Sompil       : “Apa?” (kaget dengan tawaran majiannya yang aneh itu)
Tabib         : “Hanya 1 hari, bagaimana”
Sompil       : “Emmm” (bergaya berpikir ) “bisa!”
Tabib         : “Deal?”
Sompil       : “Deal!”
Sejak saat itu, tabib bergabti profesi menjadi sompil dan sompil sang pembantu berganti profesi menjadi seorang tabib.
Keesokan harinya.
Mia            : “Permisi ?”
Tabib         : “Iya, mau cari siapa”
Mia            : “tabibnya ada?”
Tabib         : “Ada, silahkan masuk..Tuan ada tamuuu!” (sambil berteringak )
Lalu tabib datang dengan marah-marah
Sompil       : “Dasar sompil, saya itu majkan kamu!”(marah)
Tabib         : “Ooo iya, maaf tuan.”
Sompil       : “Pergi sana!”
Tabib pergi meninggalkan ruang tamu
Sompil       : “Ada perlu apa mbak?”
Mia           : “Begini lho,kemarin kan anda menyuruh saya pergi ke dokter dan sekarang saya sudah tidak ingin balas dendam lagi, oleh Karena itu,saya punya sedikit hadiah sebagai ucapan terima kasih saya.” ( sambil memberikan sebuah amplop )
Sompil       : (menerima amplop) “Apa ini?”
Mia            : “Itu uang.”
Sompil       : “Saya juga tahu, tapi ini masih kurang.”
Mia            : “ini.” (memberi satu amplop lagi)
Sompil       : “Masih kurang.”
Mia            : “Ini.” (memberikan satu amplop lagi)
Sompil       : “Naaa ini baru cukup, terima kasih dan silahkan pulang.” ( sambil senyum-senyum )
Mia            : “Baik, permisi.”
Tak berselang lama, tiba-tiba ada dua orang tamu yang datang.
Papi           : “Assalamualaikumm.”
Sompil       : “Wa’alaikumsalam.”
Papi           : “Tabibnya ada?”
Sompil       : “Saya tabibnya, silahkan masuk.”
Mami        : “Papi, bener ini tabibnya?”(heran melihat tabib)
Papi           : “Nggak tahu.”
Mami        : “Papi yakin?”
Papi           : “Nggak tahu.”
Sompil       : “Ada perlua apa?” ( sahut sompil karena merasa kesal dicuekin)
Mami        : “beginii… apa benar anda tabibnya”
Sompil       : “Benar saya tabibnya.”
Papi+mami: “Ooooo…..” ( saling berpandangan)
Sompil       : “Ada perlu apa?”
Mami        : “Kemarin anda menyuruh kami pergi ke TPA dan ternyata saya menemukan sebuah kotak yang berisi  emasbatangan.oleh sebab itu Sebagai balas budi, kami ingin member sebongkah emas kepada anda.” (memberikan sebongkah emas kepada sompil )
Sompil       :  “Terima kasih.”
Tabib datang dengan membawa minuman untuk tamu
Tabib         : “Ini minumnya tuan, silahkan di makan!”
Mami+Papi: “Lhoo kok dimakan?” (heran)
Tabib         : “Dari pada di buang.”
Mami        : “Oo iya ya, kita kok bodoh ya pi.”
Tabib         : “Tuan, itu apa?” (Terkejut melihat emas dan banyak amplop di atas meja)
Sompil       : “Ini emas.”
Tabib         : “Lha terus yang sebelahnya apa?”
Sompil       : “Ini amplop.”
Tabib         : “Iya tuan saya tahu, tapi isinya apaa?”
Sompil       : “Isinya uang.”
Tabib         : “Uang dari mana?”
Sompil       : “Ya dari pasien yang kemarin kesini.”
Tabib         : “Lho kok jadi gini, saya itu tabib yang asli.”
Papi+Mami: “ (heran) “Lhooh lha anda siapa?” (tanya ke sompil)
Sompil       : “Saya ini yang asli, dia yang palsu.”
Tabib         : “Siapa yang palsu, saya itu memperkenalkan diri.”
Sompil       : “Yang pengen kenal kamu itu siapa?”
Tabib         : “Lhooo siapa yang ingin kenal aku?”
Tiba-tiba mia datang dengan tergesa-gesa.
Mia            : “Permisi!”
Sompil       : “Iya silahkan masuk!”
Mia            : “Maaf tas saya ketinggalan, ada tas nggak?”
(dicuekin)
Tabib         : “Sompil bagaimana bisa kamu mendapatkan emas dan uang sebanyak itu?”
Sompil       : “Saya sekarang itu tabib, bukan sompil.”
Tabib         : “Kapan kamu jadi tabib?”
Sompil       : “Sejak kita mengadakan kesepakatan.”
Tabib         : “Tapi mana buktinya?”
Sompil       : “Deal.” (sambil mengangkat tangan )
Tabib         : “Itu bukan bukti sompil!”
Mia            : “Permisi tas saya ada?”
Tabib         : “Diam kamu!”
Sompil       : “Diam kamu!”
Tabib         : “Kamu kenapa ikut-ikutan?”
Sompil       : “Iiiiihh,,PD”
Mami        : “Lagi bertengkar ya mbak?” (bertanya dengan nada santai )
Sompil       : “Diam kamuuu! Kamu itu sudah untung saya pekerjakan disini.”
Tabib         : “Enak saja kamu bicara?” (marah)
Sompil       : “Mulut-mulut siapa masalah buat loe!”
Tabib         : “Baik mulai sekarang saya akan pergi dari rumah ini.”
Sompil       : “Silahkan!”
Tabib         : “Fine!” (pergi meninggalkan rumah)
Sompil       : “Don’t smile you cry.” (sambil melambaikan tangan)
Kemudian para tamu bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada sompil karena memenangkan pertengkaran. Akhirnya sompil menjadi tabib terkenal dan kaya raya.


~TAMAT~